Startup

10 Pelajaran yang dapat Anda ambil dari perusahaan startup yang gagal

Pengusaha yang baru saja memulai bisnis seringkali mengalami kegagalan, walaupun secara statistik dapat bervariasi, menurut Bloomberg.

Ingatlah bahwa meluncurkan sebuah perusahaan startup berarti memulai perjalanan panjang dan berliku, mencari sebuah celah untuk kesuksesan bukanlah tugas yang paling penting bagi pendiri perusahaan. Pertanyaan paling penting yang harus ditanyakan adalah mengapa banyak startup yang gagal. Walaupun perekonomian secara keseluruhan dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh, namun startup seringkali membuat kesalahan yang umum terjadi.

Jadi untuk membantu para pengusaha di masa yang akan datang, berikut ini merupakan beberapa pelajaran berharga yang dapat dipelajari dari kegagalan startup, termasuk kesalahan yang pernah saya lakukan:

Validasi ide produk dengan pelanggan

Pengusaha seringkali gagal untuk melakukan validasi ide produk startup mereka dengan pelanggan. Itu merupakan kesalahan besar yang saya lakukan ketika saya meluncurkan startup. Tidak ada satu orang pun yang menginginkan produk yang ditawarkan oleh perusahaan saya. Akhirnya saya menghabiskan ratusan juta untuk produk yang tidak diinginkan oleh orang lain.

Gary Swartz merupakan salah satu pengusaha yang terjatuh dalam perangkap yang sama dengan saya. Swartz mendirikan perusahaan Intellibank, sebuah perusahaan yang dia deskripsikan di LinkedIn sebagai “Seperti Dropbox yang salah.” Swartz diyakinkan oleh investornya bahwa produk mereka sudah cukup baik untuk dibawa ke publik, namun dia tidak pernah berhenti untuk mengecek peringatan yang diberikan oleh pelanggannya.

“Hal yang paling penting bagi setiap perusahaan adalah mendapatkan validasi dari pelanggan mereka” kata Swartz. “Memang benar, pelanggan Anda lebih berarti daripada investor, dan investor yang baik akan setuju dengan hal tersebut.”

Memahami pentingnya co-founder, partner, dan anggota tim

Setiap pengusaha sukses memahami bahwa dia tidak akan dapat menyelesaikan segala sesuatu sendirian. Ada beberapa tugas yang berada di luar kemampuan pemilik perusahaan. Jadi sangat penting untuk mendapatkan partner yang tepat dan melibatkan anggota tim.

Saya belajar dari pengalaman, ketika saya memulai perusahaan saya, kata John Rampton, co-founder dari Pixloo.com. Saya bekerja keras dan menghabiskan begitu banyak waktu, semuanya terlihat begitu mulus selama 10 bulan pertama. Kami meluncurkan produk dan mendapatkan lebih dari 80.000 pelanggan dalam waktu satu bulan.

Baca juga:  Panduan membuat kartu nama yang baik

Kemudian kami memiliki perbedaan pandangan. Kami memiliki perbedaan pandangan terhadap arah perusahaan dan keputusan apakah kami harus meningkatkan dana investasi atau tidak. Saya tahu bahwa kami tidak berada pada jalan yang tepat, namun karena dia memiliki setengah hak dari perusahaan, maka tidak ada yang dapat saya lakukan. Akhirnya kami menjual perusahaan tersebut dengan murah.

Menjadi agresif

Kebanyakan orang mungkin mengakui bahwa mereka tidak menyukai tenaga penjual yang terlalu memaksa. Tetapi bagi setiap orang yang ingin bisnisnya sukses harus menjadi sangat agresif. Mereka harus terus menerus menelepon pelanggan mereka.

Pada perusahaan yang saya dirikan, saya memiliki dua skenario yang harus dipilih: tidak mendapatkan uang atau menelepon klien berpotensial dan menolak untuk mendapatkan jawaban tidak dari mereka. Tanpa dorongan yang kuat, kebanyakan bisnis akan gagal. Sangat jarang sekali meluncurkan perusahaan tanpa penjualan produk yang agresif.

Menyadari bahwa mendapatkan pendanaan memakan waktu

Begitu banyak pendiri perusahaan yang berfokus untuk membantu pelanggan dalam memecahkan sebuah masalah, namun tidak dapat dihindari bahwa Anda memerlukan uang untuk merealisasikan semua hal tersebut. Startup tidak dapat beroperasi atau berkembang tanpa memiliki pendapatan. Membangun startup mengharuskan Anda untuk mengeluarkan begitu banyak biaya. Dan terkadang sangat tidak mungkin untuk menunggu lama, hingga Anda mendapatkan pendanaan. Banyak sekali pemilik bisnis yang kehabisan uang sebelum mereka mendapatkan pendanaan.

Mengharapkan pendanaan akan memakan banyak waktu. Hal ini tidak sama dengan yang Anda lihat di film. Anda harus melakukan pitching terhadap ratusan perusahaan pendanaan, sebelum mendapatkan investasi yang nyata.

Pantau keuangan Anda

John Rampton mengatakan bahwa ketika dia menjalankan startupnya, Pixloo.com, dia berpikir bahwa sangat mungkin untuk mendapatkan jutaan pelanggan yang rela membayar $10 setiap bulan. Namun dia salah. Dia hanya mendapatkan 90 pelanggan yang bersedia untuk membayar $10 setiap bulan, sedangkan 80.000 pelanggan lainnya tidak bersedia membayar apa pun.

Memiliki visi jangka panjang

Kebanyakan pengusaha menyadari bahwa mereka membutuhkan tujuan jangka panjang untuk startup mereka agar sukses.

Baca juga:  Apa yang dibutuhkan untuk menjadi pemilik bisnis kecil

Meetro, contohnya, salah satu perusahaan yang pertama kali membangun jejaring sosial yang berbasis lokasi. Startup tersebut melakukan hal dengan baik dalam membangun fan base di Chicago dan kemudian di Silicon Valley, menurut guest post dari pendiri Meetro di Techcrunch. Daripada terus mengembangkan komunitas di Chicago, pendiri perusahaan meninggalkan daerah tersebut dan berfokus di San Francisco. “Kami tidak lagi menjadi wajah komunitas tersebut dalam mengorganisir acara,” tulis Bragiel. “Walaupun layanan tersebut masih berlanjut dan memiliki orang – orang yang masih menggunakannya, namun hal tersebut tidak lagi seperti ketika dulu berada pada puncak kejayaan mereka.”

Untuk sukses, para pengusaha harus mengingat tujuan jangka panjang mereka dan terus berusaha untuk membangun basis komunitas yang kuat dan mempertahankannya, sebelum Anda mulai ekspansi ke lokasi lain.

Jangan menginvestasikan uang terlalu besar

Hal ini memang terdengar aneh, tetapi dengan menginvestasikan uang terlalu besar dapat menjadi faktor hancurnya sebuah startup. Hal itulah yang di deskripsikan oleh Ben Yoskovitz sebagai kegagalan startupnya: Menginvestasikan $1.8 juta dollar di awal. “Kami tidak memiliki validasi yang dibutuhkan ketika menginvestasikan uang sebesar itu.” Tulisnya, dan mencatat bahwa tidak ada satu pun anggota tim pendiri yang dapat membangun sebuah produk yang layak dengan kemampuan mereka sendiri. “Itu adalah sebuah kesalahan.”

Bahaya bagi pengusaha yang berhasil mendapatkan pendanaan pada produk baru yang belum di test sepenuhnya adalah bahwa mereka dapat jatuh dalam perangkap berpikir bahwa mereka sudah mendapatkan sesuatu yang menarik banyak orang. Daripada melakukan validasi terhadap asumsi mereka.

Membangun produk yang unik

Dinamika yang menarik adalah permainan dalam dunia kewirausahaan. Pendiri perusahaan tidak boleh terlalu fokus pada niche audiens yang terlalu kecil untuk menghindari kompetisi. Sangat tidak mungkin untuk mendapatkan uang dengan cara tersebut. Namun berhati – hatilah terhadap startup lain yang mungkin akan mencontek bisnis Anda.

Cap Watkin, desainer yang sekarang berada di Etsy, menjelaskan dalam sebuah postingan yang membedah bisnis mengenai Formspring berdasarkan pengalaman dia ketika berada disana, staff disana terlalu banyak menghabiskan waktu dan uang untuk berinvestasi pada sebuah tombol berbagi yang mirip dengan tombol berbagi Facebook dan Twitter. “Kami menghabiskan waktu berbulan – bulan untuk mengerjakan sistem tersebut. Kami harus memastikan bahwa server kami mampu menangani traffic yang besar, mendesain, dan mengimplementasi fitur tersebut, memastikan agar dapat digunakan dengan mudah oleh pihak penerbit, membuat kesepakatan dengan penerbit.”

Baca juga:  7 Tips untuk membuat tempat kerja sosial

Namun fitur tersebut ternyata gagal, kata dia.

“Para pengusaha: Buatlah produk Anda sendiri,” saran Watkin. “Produk yang sukses dieksekusi berdasarkan visi yang sejalan dengan tujuan produk dan penggunanya.”

Ingat untuk terus membangun bisnis

Startup dapat disamakan seperti produk yang laris di dunia, jika perusahaan tidak berkembang, bisnis mereka pun tidak akan bertahan lama. Dengan kata lain, pasarkan perusahaan startup Anda.

Itu merupakan masalah yang dihadapi oleh startup fotografi Everpix, menurut the Verge: “Para pendiri mengakui bahwa mereka membuat kesalahan saat mereka beroperasi. Mereka terlalu lama menghabiskan waktu pada produk dan tidak memiliki waktu yang cukup untuk berkembang dan melakukan distribusi.”

Menemukan investor yang tepat

Sangat jelas bahwa pengusaha membutuhkan investor agar dapat sukses, kecuali jika pendiri perusahaan tersebut sangat kaya. Namun menemukan investor yang tepat tidak mudah. Memang sangat menyenangkan jika memiliki investor yang berbagi visi dan filosofi yang sama dan dapat memberikan dukungan penuh seperti memberikan saran mengenai bagaimana membuat perusahaan menjadi lebih terorganisir dan melakukan pemasaran.

Namun bagaimana bila investor yang Anda miliki tidak sesuai secara pribadi, profesional, atau memahami bisnis yang Anda lakukan? Berdasarkan pengalaman David Levy’s pada perusahaan startup Tigerbow yang gagal. “Kami berhasil mendapatkan pendanaan dari teman dan keluarga. Disamping kenyataan bahwa kami mendapatkan sangat sedikit nilai (non material) dari investor ini, orang – orang yang tidak familiar dalam berinvestasi pada startup dan mengetahui resiko dan tantangannya dalam membangun perusahaan akan membuat Anda tertekan dan sulit untuk fokus dalam mengembangkan bisnis Anda.”

Tags

Fill Gunawan

Dia adalah seorang web developer yang sudah berkecimpung selama kurang lebih 7 tahun dalam industri kreatif, dia juga merupakan founder situs kerjayuk.com. Saat ini dia bekerja di sebuah perusahaan startup dan mulai merintis usaha di industri kreatif.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *